Lebih dari Sekadar Series: Refleksi dari Series Anne with an E

Lebih dari Sekadar Series: Refleksi dari Series Anne with an E



Anne with an E adalah salah satu serial favoritku sepanjang masa. Aku sering merekomendasikannya ke teman-teman yang suka menonton film atau series. Sayangnya, tidak sedikit dari mereka yang menolak menonton hanya karena menganggap pemeran Anne “tidak cantik”.

Padahal, justru di situlah kekuatannya—her beauty shines brightest through her intelligence. ✨

Ada begitu banyak hal yang tidak boleh dilewatkan dalam serial ini. Nilai-nilai kehidupan yang relevan, cerita yang menyentuh, dan dialog-dialog reflektif menjadikannya sangat layak untuk dijadikan bahan diskusi dan renungan pribadi.

Anne menjadi katalis yang mengubah kehidupan Marilla dan Matthew, serta seluruh komunitas Avonlea, melalui keberanian, imajinasi, dan kepeduliannya terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya. Ia hadir bukan hanya sebagai anak yatim piatu yang mencari tempat pulang, tetapi juga sebagai sosok yang menghadirkan cara pandang baru tentang kehidupan—yang lebih terbuka, jujur, dan penuh harapan.

Menurutku, sekolah-sekolah di Indonesia seharusnya tidak hanya mewajibkan siswa untuk membaca buku, tetapi juga memberi ruang untuk menonton dan me-review film-film yang mendidik. Dengan begitu, setiap siswa bisa aktif berpendapat, mengutarakan apa yang mereka lihat dan baca, melatih kemampuan berpikir kritis, serta mengasah empati dan daya analisis.

Sayangnya, hal-hal sederhana seperti ini—seperti menonton film dan menjadikannya kebiasaan rutin di rumah atau di lingkungan bermain—belum dianggap sebagai bagian dari proses pendidikan yang layak diangkat. Padahal, di banyak negara lain, siswa terbiasa diberi tugas untuk membaca atau menonton, lalu mendiskusikannya secara terbuka di kelas.

Di zaman sekarang, ketika menonton film, drama Korea, atau serial apa pun sudah menjadi bagian dari keseharian banyak orang, seharusnya aktivitas tersebut bisa diolah menjadi proses pendidikan yang bermakna. Bukan hanya sebagai hiburan pasif, tapi juga sebagai media untuk membangun kepekaan, memperluas wawasan, dan melatih daya analisis. Film, jika dimanfaatkan dengan tepat, bisa menjadi pintu masuk untuk memahami isu-isu sosial, sejarah, nilai kemanusiaan, bahkan mendorong empati.

Karena sejatinya, pendidikan tidak hanya tumbuh dari buku pelajaran—tetapi juga dari apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan dalam keseharian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rekomendasi Rute Perjalanan ke Banda Neira: Jakarta, Cirebon, Surabaya, Banda Neira

Refleksi Diri dalam Musik Novo Amor: Spiritual Journey Through New Love

Melankoli dalam Hening: Menyelami Kenangan Bersama Cigarettes After Sex

Review Buku Silsilah Duka - Dwi Ratih Ramadhany

Rekomendasi Rute Perjalanan dari Banda Neira ke Pulau Jawa

Apakah ‘Aku Memang Begini’ Sudah Cukup Alasan untuk Tidak Berubah?

Pesta di Kepala, Tuhan di Pinggir: Membaca Hidup dalam Puisi Jazuli Imam