Review Novel "SUMI" Karya Jazuli Imam
Review Novel "SUMI" Karya Jazuli Imam
Novel “SUMI” adalah salah satu dari beberapa karya Jazuli Imam. Beberapa karya nya yang di bukukan antara lain; novel #1 sepasang yang melawan, #2 sepasang yang melawan dan Oleh-oleh Khas Jalan Sunyi. Ia juga beberapa kali menulis naskah dan menyutradarai pementasan teater.
Buku Sumi merupakan kisah seorang pejalan yang akhirnya menemukan apa yang ia cari selama ini, yaitu; penerimaan. Yang ada dalam diri sendiri. Seperti biasa Jazuli Imam menghadirkan sosok Sumi dengan penuturan khasnya. Khas dimana aktivitas pejalan dan kepencintaan alamnya tampak melekat dalam setiap karya-karyanya. Seperti novel Sepasang Melawan yang pernah ia tulis sebelumnya, tokoh yang hidup di dalamnya pun memiliki idealisme hidup yang kuat, sehingga setiap jengkal perjalanannya pun akan dapat dirasakan maknanya yang begitu dalam. Jazuli imam menampilkan sosok Sumi yang menggambarkan pemaknaan-pemaknaan apa yang ia alami lewat puisi-puisi yang ia tuliskan di buku harian nya.
Perjalanan Sumi dimulai dari rasa keberaniannya untuk keluar dari segala ketidaksetujuannya pada kehidupan yang ia jalani selama ini. Kehidupan yang justru direnggut oleh keluarganya sendiri, terutama bapaknya. Sejak kecil sumi tumbuh atas komando bapaknya, tak ada pilihan dalam hidupnya. Dewasa itu Sumi bekerja di perusahaan Asuransi terbesar atas campur tangan bapak nya yang juga bekerja di situ. Hal itu menjadi titik awal di mana Sumi akan melakukan sebuah perjalanan untuk menjadi dirinya sendiri. “Sumi naik dan berdiri di atas meja frontline, dengan pylox hitam, ia berikan tanda silang tebal pada logo besar berjargon “Certainty & Security For Your Life” yang dicetak timbul di dinding palet. Sumi tulis di sana; Life is adventure, or nothing.” (hal.3).
Ujung Timur sebuah wilayah yang menjadi tujuan seorang Sumi untuk mencari dirinya sendiri. Hingga sampailah ia dengan pertemuan demi pertemuan. Terutama bapak stefan yang banyak membantu Sumi. “Telah lahir; Sumi, tulisnya dalam buku harian pada suatu malam, seolah ia belum pernah hidup sebelumnya. Sebuah kabupaten bernama Bigel, 500 kilo meter dari Marlo, melintas di kepalanya ketika ia menuliskan kata-kata itu.” (hal.4).
Sumi mengajak kita menjelajah di antara hiruk pikuk kebudayaan kota, kebenaran atas norma-norma dan kemerdekaan setiap individu, yang berimbas pada kesehatan mental. Semua menjelaskan bahwa setiap yang bersedia menjadi penghuni bumi ini pasti memiliki bangunan luka yang membentuk motivasinya dalam menghadapi masa depan. Trauma, pengkhianatan, pelecehan, perampasan, pemaksaan, adalah bangunan masa lalu yang berujung pada sikapnya hari ini; menerima atau merawat.
Dari beberapa konflik terselip nilai tasawuf yaitu ketika tergambar beberapa cara ketika menyikapi mahluk hidup selain manusia. Kemudian di bumbui oleh kisah Sumi dan Dawiyah, seorang relawan kesehatan di ujung timur. Dengan kisah cinta mereka yang sangat menarik. Semua pertemuan-pertemuan yang terjadi selama perjalanan panjang Sumi mengingatkan bahwa kita adalah pesakit yang sama. Di jakarta, di desa, dimana-mana seolah-olah nasib manusia adalah sama; luka. Dan satu-satunya hal yang semua orang butuhkan adalah cinta.

Komentar
Posting Komentar